Peristiwa Hebat Di Padang Mahsyar


2

PADA hari yang mencekam ini manusia bangkit dari kubur dalam sekejab, mereka seperti belalang yang menyebar berbondong-bondong menjawab panggilan penyeru, tidak ada gerakan, diliputi oleh diam yang mencekam, catatan-catatan amal dibeber, yang tersimpan dibuka, yang terpendam dimunculkan dan yang tersembunyi di dada dikeluarkan.

Dalam situasi yang mencekam dan menakutkan ini manusia digiring dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan, sebagaimana termaktub dalam hadits shahih dari Aisyah berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda,
Manusia digiring dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum disunat.” Aisyah berkata, “Laki-laki dan perempuan saling melihat?” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Perkaranya lebih besar dari sekedar mengurusi perkara yang begitu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pada hari itu orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan petunjuk dalam kehidupan di dunia digiring dalam kondisi yang hina dan tertunduk malu, mereka digiring dengan diseret di atas wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli, hal itu sebagai balasan atas mereka karena sewaktu di dunia mereka tidak menggunakannya untuk mengetahui dalil-dalil hidayah.

Allah berfirman, “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat dengan diseret di atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.” (QS. Al-Isra: 97).

Di dalam hadits yang mulia dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, firman Allah, ‘Orang-orang yang dihimpun ke Neraka Jahannam dengan diseret di atas muka mereka’. (Al-Furqan: 34). Apakah orang kafir dihimpun dengan diseret di atas wajahnya?” Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bukankah Dzat yang menjadikannya berjalan di atas kedua kakinya mampu membuatnya berjalan di atas wajahnya pada Hari Kiamat?” Qatadah berkata –ketika mendengarnya- “Ya demi kemuliaan Tuhan kami.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pada hari yang sulit lagi berat ini manusia berkeringat karena beratnya beban, matahari didekatkan ke kepala manusia, keringat mengucur deras, mereka tenggelam oleh keringat sesuai dengan amal mereka di dunia. Dalam ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Manusia berkeringat pada Hari Kiamat sehingga keringat mereka mengalir di bumi sedalam 70 hasta dan keringat mengurung mereka sehingga sampai di telinga mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dan at-Tirmidzi dari hadits al-Miqdad bin Aswad berkata, saya telah mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Matahari didekatkan kepada manusia pada Hari Kiamat sehingga jaraknya dari mereka hanya satu mil.” –Sulaim bin Amir berkata, “Saya tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan mil: Apakah mil jarak atau mil alat untuk mengoleskan celak ke mata?– Dia berkata, “Maka manusia berkeringat sesuai dengan amal mereka, di antara mereka ada yang keringat sampai di kedua mata kakinya, ada yang sampai di kedua lututnya, ada yang sampai di punggungnya. Dan di antara mereka ada yang tenggelam oleh keringatnya.” Dan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangannya ke mulutnya.

Di hari yang berat ini ada wajah yang hitam, ada pula wajah yang putih. Yang pertama diliputi oleh debu kesedihan, penyesalan, kegelapan, kehinaan dan ketakutan. Wajah ini mengetahui apa yang telah ia kerjakan dan balasan apa yang akan diperolehnya. Wajah kedua adalah wajah yang berseri-seri, berbahagia dan tenteram, ia mengetahui tempat kembali dan balasannya, ia berbinar-binar setelah melewati ketakutan dan kekhawatiran yang mencekam.

Firman Allah, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga), mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imran: 106-107).

Firman Allah, “Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.”(‘Abasa: 38-42).

Pada hari ini manusia dibangkitkan di atas apa yang mereka mati di atasnya: kebaikan atau keburukan: Masing-masing orang sibuk dengan urusannya, tidak menoleh kepada yang lain, ikatan keluarga dan darah, tali rahim dan nasab terputus. Ketakutan menaungi semua orang dan kecemasan meliputi semua orang di hari yang menakutkan ini.

Firman Allah, “Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (‘Abasa: 33-37).

Bahkan penjahat –seperti yang dijelaskan oleh Allah kepada kita– ingin menebus azab hari itu dengan orang yang paling mulia baginya di mana dia akan mengorbankan dirinya untuk mereka di dunia.

Firman Allah, “Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan istrinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (Al-Ma’arij: 11-14).

Akan tetapi mana mungkin? Masing-masing orang sibuk mengurusi dirinya sendiri sesuai dengan amal kebajikan dan keburukan yang diperbuatnya sebelum hari ini. Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang dibangkitkan berdasarkan apa yang dia mati di atasnya.

Pada hari ini hari keputusan catatan amal dibagikan kepada para pemiliknya orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya, dialah orang yang berbahagia dan selamat di hari yang sulit ini. Orang ini sebelumnya telah beriman dan berbuat kebajikan untuk menghadapi hari ini, dia mengundang seluruh makhluk untuk membaca buku catatan amalnya. Allah telah menerima amalnya maka dia pun selamat. Dia akan dihisab dengan hisab yang mudah. Betapa bahagianya dan betapa beruntungnya.

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini).’ Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam Surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (Al-Haqqah: 19-24).

Adapun orang yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kiri atau dari balik punggungnya maka dia adalah orang yang sengsara lagi celaka yang tidak beriman dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian, dia sekarang dibalas berdasarkan keburukannya, dia berdiri di hadapan lautan manusia dengan penuh penyesalan, kesedihan dan kesengsaraan. Dia berharap kematian dan perkaranya selesai. Dia menyesali apa yang dahulu dikumpulkan dan dibangga-banggakan. Tidak ada sesuatu pun yang berguna baginya, tidak hartanya tidak pula kekuasaannya.

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.” (Al-Haqqah: 25-29).

Pada hari ini –hari hisab dan pembalasan– tidak diterima apa pun sebagai tebusan dari orang-orang kafir dan mati dalam kekufuran. Taubat dan penyesalan tidak berguna bagi mereka harta dan anak yang dijadikan tebusan ditolak. Tidak ada sesuatu apa pun yang bisa mengganti azab.

Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali ‘Imran: 91).

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksanya, ‘Jika kamu memiliki seluruh dunia, apakah kamu akan menebus siksamu dengannya?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Allah berfirman, ‘Saya telah menginginkan dirimu sesuatu yang lebih mudah dari itu, sementara kamu masih di tulang punggung Adam, yaitu agar kamu jangan menyekutukanKu dengan sesuatu, dan Aku tidak memasukkanmu ke neraka tetapi ke surga. Akan tetapi kamu menolak kecuali syirik.”

Setelah itu adalah surga atau neraka. Semoga kira termasuk penghuni yang pertama. Amin.

Imam al-Harits al-Muhasibi berkata, “…Sehingga ketika jumlah orang mati telah sempurna, bumi dan langit telah sepi dari penghuninya, suasananya senyap mencekam setelah sebelumnya riuh rendah oleh gerakan mereka, tidak ada suara yang didengar, tidak ada orang yang dilihat, hanya Allah Yang Mahatinggi. Kemudian rohmu dikagetkan oleh suara penyeru kepada seluruh makhluk bersamamu untuk bangkit menghadap Allah dengan penuh kehinaan dan kerendahan darimu.”

Bayangkan bagaimana suara itu menyusup ke dalam pendengaran dan akalmu. Kamu menyadari dengan akalmu bahwa kamu dipanggil untuk menghadap kepada Allah Penguasa tertinggi, maka hatimu pun akan terbang, rambutmu akan beruban karena panggilan itu, karena hanyalah satu teriakan untuk menghadap kepada Allah. Tatkala kamu masih terhenyak karena panggilan itu tiba-tiba kamu mendengar terbelahnya bumi dari kepalamu, kamu bangkit, ubun-ubun sampai kakimu berdebu oleh debu kuburmu, kamu tegak di atas kedua kakimu, mengarahkan matamu ke arah suara panggilan. Sementara seluruh makhluk telah bangkit serentak bersamamu dan mereka juga berdebu oleh debu bumi di mana ujian panjang telah mereka lewati di dalamnya.

Bayangkan bagaimana kamu bangkit dengan ketegangan dan ketakutan. Bayangkan dirimu dalam keadaan telanjang dan terhina dengan kesendirianmu, rasa takutmu dan rasa sedihmu, kegelisahan dan kekhawatiranmu di tengah keramaian makhluk-makhluk, semuanya telanjang tanpa alas kaki dan belum dikhitan. Semuanya diam dengan kehinaan, kerendahan, ketakutan dan kekhawatiran. Kamu tidak mendengar kecuali gerakan kaki. Suara itu memanggil dan semua makhluk mendatanginya. Kamu pun mendatangi suara itu bersama mereka, berjalan dengan khusu’ dan rendah diri, sehingga ketika kamu telah tiba di padang Mahsyar, ia telah dipenuhi oleh seluruh umat dari kalangan manusia dan jin dalam keadaan telanjang dan tanpa beralas kaki. Raja-raja dunia tidak lagi bermahkota, mereka berubah menjadi rendah dan terhina. Mereka adalah hadirin paling hina, makhluk paling rendah martabatnya setelah sebelumnya mereka menyombongkan diri dan berbuat semena-mena kepada hamba-hamba Allah di bumi.

Manakala penghuni langit dan penghuni bumi telah memenuhi padang Mahsyar, matahari diberi kadar panas selama 10 tahun, ia didekatkan ke kepala para makhluk berjarak satu mil, tidak ada atap (perlindungan) bagi siapa pun kecuali perlindungan Arasy Rabbil Alamin, ada yang berteduh di bawah Arasy, ada yang terjemur oleh panasnya matahari, sehingga membuatnya meleleh. Kesulitan, dan kecemasannya meningkat karena sengatan panasnya. Kemudian umat manusia saling berdesak-desakan dan saling dorong-mendorong, sebagian mendorong sebagian yang lain. Kaki-kaki berjejal dan berhimpitan, leher-leher manusia serasa terputus karena kehausan. Panas matahari, desahan nafas manusia dan jasad mereka yang saling berdesakan berkumpul menjadi satu. Keringat pun mengalir dan menetes dari tubuh mereka sehingga ia membanjiri bumi. Ada yang berbahagia, adapula yang sengsara sesuai dengan martabat dan tempat mereka di sisi Allah. Sebagian ada yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, sebagian keringat mencapai pinggangnya, sebagian keringat mencapai daun telinganya dan ada pula yang hampir terbenam oleh keringatnya serta ada juga yang selain dari itu.

Bayangkan dirimu dengan kesulitanmu sementara keringat mengitarimu, kecemasan menguasai dirimu, dadamu menjadi sempit karena beratnya keringat, rasa cemas dan takut. Manusia menunggu keputusan bersamamu, apakah akan berakhir di rumah kebahagiaan ataukah di rumah kesengsaraan.

Ketika kesulitan yang menimpamu dan para makhluk telah mencapai puncaknya, mereka telah berdiri lama tanpa ada pembicaraan dan perkara mereka belum juga diputuskan. Masing-masing dengan sendirinya berucap, ‘diriku, diriku’. Kamu tidak mendengar ucapan kecuali, ‘diriku, diriku’. Betapa mencekamnya hari itu, sementara kamu pun memanggil sama seperti mereka, sibuk dengan dirimu sendiri, memikirkan bagaimana bisa selamat dari azab dan hukuman Tuhanmu.

Bagaimana kamu membayangkan suatu hari di mana Nabiyullah Adam, Ibrahim al-Khalil, Musa al-Kalim, Isa ruh dan kalimatullah, dengan kemuliaan mereka di sisi Allah dan kedudukan mereka yang agung di sisiNya, walaupun begitu mereka semua berseru, ‘diriku, diriku’, karena takut akan murka Allah. Di mana dirimu dibandingkan dengan mereka dalam ketakutanmu terhadap hari itu, kesibukanmu, kesedihanmu dan kecemasanmu.

Manakala seluruh makhluk tidak memperoleh syafaat mereka, mereka mendatangi Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, mereka meminta kepadanya syafaat di sisi Allah, beliau mengabulkan, kemudian beliau bangkit berdiri menuju Allah. Beliau meminta izin dan diizinkan, kemudian beliau bersujud kepadaNya, lalu memanjatkan segala pujian kepadaNya sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya. Semua itu kamu dengar, makhluk-makhluk juga mendengar dan Allah mengabulkan permintaannya shallallohu ‘alaihi wasallam untuk segera melihat dan memutuskan perkara mereka.

Tatkala dirimu bersama makhluk yang lain di kegelapan hari Kiamat berada dalam kesulitan yang berat. Kamu menunggu kata putus ke Surga atau Neraka, tiba-tiba bersinarlah cahaya Arasy dan bumi pun bercahaya dengan nur Ilahi. Dia datang dan kamu menghadap kepadaNya seolah-olah tidak ada yang menghadap kepadaNya kecuali dirimu dan Dia tidak melihat kecuali perkaramu.

Kemudian Dia berseru, “Wahai Jibril, bawalah neraka kemari.” Jibril tiba, dia berkata, “Wahai Jahannam, jawablah (panggilan Tuhanmu).” Bayangkan gejolaknya, jilatan lidah apinya. Allah menciptakan makhluk dan mengazabnya dengannya. Bayangkan, ketika Jahannam itu mendidih, bergolak dan menyala-nyala. Ia melihat kepada makhluk dari kejauhan, ia menjulur dan mengeluarkan lidahnya kepada mereka, ia ingin melompat menarik makhluk-makhluk karena marah, mengikuti kemarahan Tuhannya kepada orang-orang yang menyelisihi perintahNya. Bayangkan suaranya yang bergejolak yang memenuhi pendengaranmu. Hatimu pun terbang karena kecemasan dan ketakutan. Seluruh makhluk berlari karena takut jilatannya mengenai wajahnya.

Bayangkan tangisan seluruh makhluk secara serempak ketika ia bergejolak dan bergemuruh. Orang-orang zhalim meneriakkan penyesalan dan kesedihan. Orang terpilih, orang jujur, orang yang mati syahid dan seluruh manusia berkata, ‘diriku, diriku’. Bayangkan suara para makhluk, para nabi dan orang-orang di bawah mereka, masing-masing berkata, ‘diriku, diriku’. Kamu pun mengatakannya.

Bayangkan dirimu dalam keadaan ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, kebingungan dan keterasingan. Di mana anakmu, bapakmu, saudaramu, temanmu dan keluargamu berlepas diri darimu dan kamu pun juga berlari dari mereka semua. Bagaimana kamu tidak menolong mereka dan mereka tidak menolongmu. Kalau bukan karena kengerian yang besar pada hari itu niscaya bukan perbuatan mulia dan terpuji jika kamu berlari dari ibumu, bapakmu, istrimu, anak-anakmu dan saudaramu. Akan tetapi karena ketakutan dan kekhawatiran yang besar dan berat. Maka kamu tidak disalahkan karena berlari dari mereka. Begitu pula mereka.

Ketika kamu dalam kondisi seperti itu tiba-tiba leher api terangkat, ia berbicara dengan lisan yang fasih menyebut orang-orang yang harus diambil tanpa dihisab, mereka adalah semua orang yang mengangkat tuhan lain selain Allah. Semua orang yang sombong lagi menentang kebenaran, dan orang-orang yang membuat rupaka-rupaka. Kemudian leher itu menjulur menyambar mereka seperti burung menyambar biji-bijian. Lalu ia menggulung mereka, menceburkannya ke dalam neraka. Neraka menelan mereka dan membenamkan mereka di Jahannam. Begitulah yang dilakukan kepada mereka.

Kemudian seorang penyeru berseru untuk memberitahukan penghuni Mahsyar siapa yang berhak memperoleh kemuliaan, “Agar berdiri orang-orang yang selalu memuji Allah dalam keadaan apa pun.” Lalu mereka maju masuk ke surga. Kemudian hal itu dilakukan kepada orang-orang yang selalu ber-qiyamul lail. Kemudian kepada orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dunia dari berdzikir kepada Tuhannya.
(Dirangkum dari Shahih Asyrat as-Sa’ah, Mushtafa as-Syalabi)

 

Sumber:http://hikmah.pelitaonline.com

Categories: ARTIKEL | Tags: , , , , , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Peristiwa Hebat Di Padang Mahsyar

  1. Ujang Sumedang

    Asswrwb….Salam kenal kang…..punten bde tumaros ari akang asli sumedang?
    Hatur nuhun sateu acanna! Mangga dilajeng ibadahna

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: