Melontar Jumrah Untuk Mengusir Syetan


Liputan6.com, Mina: Melontar jumroh di Jamarot, Mina, dilakukan jamaah haji setelah melaksanakan wukuf di Arafah dan Mabit di Muzdalifah. Apa arti dan hakikat ritual jumroh? Berikut ulasan reporter Liputan 6, H. Mohammad Achir.

Melontar jumroh adalah salah satu wajib haji. Jamaah yang tidak melaksanakan jumroh harus membayar dam atau denda berupa seekor kambing. Jika tidak mampu, bisa diganti dengan fidyah berupa puasa 10 hari.

Ritual jumroh melambangkan perlawanan seorang manusia terhadap godaan setan yang menjerumuskan pada keburukan dan memalingkan manusia dari perintah Tuhan. Jumroh berarti tempat pelemparan yang dibangun untuk memperingati penolakan Nabi Ibrahim terhadap godaan iblis agar ia tidak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih puteranya, Ismail.

Tiga kali Ibrahim digoda iblis dan tiga kali pula ia melontarkan batu sebagai penolakan. Di tiga tempat itulah kemudian dibangun tugu jumroh bernama ula, wustho, dan aqobah di dekat gerbang Mina.

Jamaah haji biasanya menyiapkan batu untuk melontar jumroh saat mereka mabit atau bermalam sejenak di Muzdalifah sepulang dari wukuf di Arafah. Batu jumroh tidak boleh terlalu besar agar tidak melukai jamaah lain bila batu memantul dari tugu jumroh. Ukuran batu kerikil tersebut kira-kira sebesar jari kelingking.

Waktu melontar dimulai setelah lewat tengah malam hingga terbenam matahari atau magrib. Waktu yang paling utama untuk melontar adalah mulai duha hingga zuhur. Namun, jamaah Indonesia disarankan melontar jumroh pada pagi atau sore hari untuk menghindari berdesakan dengan jamaah dari negara lain yang fisiknya lebih kuat dan besar.

Di setiap tempat jumroh, baik ula, wustho, maupun aqobah, setiap jamaah haji harus melontarkan tujuh buah kerikil. Pada hari pertama, atau 10 Dzulhijjah yang biasa disebut Yaum Nahar, lontar jumroh hanya berlangsung di jumroh aqobah dengan 7 batu. Sedangkan pada hari-hari berikutnya, setiap hari jamaah harus melontar di ketiga jumroh, ula, wustho, dan aqobah masing-masing dengan 7 batu. Jika jamaah haji melakukan nafar awal, dibutuhkan total 49 butir kerikiil. Sedangkan untuk nafar tsani, dibutuhkan total 70 butir kerikil.

Nafar awwal adalah bila jamaah haji hanya melontar jumroh selam tiga hari, yaitu dari 10 hingga 12 Dzulhijjah. Sedangkan nafar tsani adalah jika jamaah haji melontar jumroh selama empat hari, yaitu dari 10 hingga 13 Dzulhijjah. Jamaah yang mengambil nafar awal berarti sehari lebih cepat meninggalkan Mina untuk menuju kota suci Mekkah. (YUS)

Categories: ARTIKEL | Tags: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: